Di kala sore, di suatu taman wisata daerah Kabupaten Semarang. Duduklah sepasang muda-mudi yang tengah bercakap akan kehidupan mereka. Itu adalah pertemuan pertama mereka dalam empat mata, setelah sekian lama tak berjumpa.
“Kau tau,
kenapa aku mau menjawab teleponmu, rei?” tanya Kirana membuka percakapan.
Reihan masih sibuk menikmati pemandangan di sekitar mereka, mereka berdua
sedang duduk berdua di bawah pohon yang tinggi dan tidak terlalu besar,
keduanya duduk bersebelahan dan sedang menatap arah yang sama.
“Karena
kamu mau menjawabnya, kan, ??” jawab Reihan sekenanya.
“Iya, tapi
kenapa aku mau menjawabnya? Alasannya, kamu tau gak, rei?” sambung Kirana lagi
yang tak puas dengan jawaban yang diberikan Reihan.
“Yaaa,
kalau itu, kamu yang tau,” sambung Reihan lagi, sedikit melirik ke arah Kirana.
“Huuhh,
males ngomong sama orang yang gak asik!!” jawab Kirana sambil mengenduskan
hidungnya.
Reihan
hanya menoleh dan melihat Kirana yang terlihat kesal kepadanya, keduanya pun
terdiam. Lama keduanya terdiam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kirana sedang memandangi pemandangan persawahan di depannya, sedangkan Reihan
memandangi langit yang cerah, biru tanpa awan. Kirana yang tidak nyaman dengan
kebisuan pun, membuka percakapan lagi.
“Rei,
bolehkah aku bertanya? dan maukah kamu menjawabnya?” tanya Kirana kemudian sambil
menoleh dan melihat reaksi Reihan.
“Ya,
tanyakanlah.” jawab Reihan singkat diiringi anggukan santai.
“Hmmm...
tapi jawabnya harus jujur lho ya?” sambung Kirana dengan sedikit memelas,
mengharapkan kepastian mendapat jawaban jujur dari Reihan. Reihan hanya mengangguk
saja, tanpa kata-kata, tanda mengiyakan.
Sedikit
ragu-ragu mengutarakan pertanyaannya, Kirana pun bertanya sambil menundukkan
kepalanya. “Rei, apa dulu kamu mencintaiku?” tanya Kirana dengan sedikit malu
dan tidak berani menatap ke arah Reihan. Reihan diam sejenak mendengar
pertanyaan yang diajukan Kirana, dia sedikit berpikir tentang jawaban yang
tepat untuk menjawab pertanyaan Kirana.
“Menurutmu,
bagaimana? An..?” jawab Reihan, balik bertanya.
“Aku yang
tanya duluan, rei!??” sambung Kirana sedikit membentak karena kesal dengan
Reihan yang daritadi selalu tidak menanggapi serius pertanyaan yang
diajukannya. Reihan pun menjawab, “Kamu ingin jawaban jujur..??” kemudian Reihan
terdiam sejenak. “..tapi akan sedikit menyakitimu,....” sambung Reihan lagi,
sambil menoleh ke arah Kirana.
“Kamu
memang sudah menyakitiku, rei!” sambung Kirana sedikit trenyuh teringat
kenangan masa lalu mereka.
“Aku
tau,... ” sambung Reihan, dia tak melanjutkan kata-katanya, dia langsung
menarik tangan kiri Kirana dan dipeganginya
dengan erat.
“Maafkan
aku, an...” ucap Reihan lirih, Kirana kaget Reihan memegang tangan kirinya dengan erat, walau begitu ia tetap membiarkan Reihan memegang tangannya, entah mengapa Kirana pun merasa tenang, nyaman,
bersama Reihan.
“An, pernahkah
kamu berpikir bahwa kemewahan itu penting,?” tanya Reihan sambil melepaskan tangan Kirana. Kirana
termangu dengan pertanyaan Reihan.
“Penting
dong, manusiawi ajalah, rei,..” jawab Kirana yang agak bimbang dengan jawaban
yang diutarakannya.
“Oh yaa,? Dulu..
ketika memilih untuk melepasmu, aku berpikir bahwa kemewahan itu penting.”
sambung Reihan dengan suara pelan.
“Sekarang,
kamu memilih untuk memungutku kembali, apa kamu sekarang berpikir sebaliknya?”
tanya Kirana, tak mengerti maksud Reihan, dan mencoba mencari tau ketidak-mengertiannya.
“Bukan aku
yang memungutmu, tapi kamu yang memungutku.” tampik Reihan. “Aku kini hanya
serpihan-serpihan yang sedang kamu pungut dan kamu bangun kembali dengan
kekuatanmu.” sambung Reihan lagi.
“Aku tidak
mengerti dengan ucapanmu, rei, ??” tanya Kirana, masih bingung mengartikan
untaian kata yang diucapkan Reihan. “Dulu, aku mencintaimu, tapi aku lebih
mencintainya, karena dia hadir lebih awal dibandingkan kamu dan dia pun selalu bisa memberikan
apa yang aku pinta, dibanding kamu…” jawab
Reihan, membuka semua yang menyelimuti pikirannya. Kirana terdiam dengan
jawaban yang diucapkan Reihan.
“Tapi, itu
dulu, an..,” sambung Reihan lagi, namun Kirana masih terdiam. “Kenapa kamu diam,
an? apa kamu berpikir buruk tentangku?” sambung Reihan lagi, dengan mengiba,
menantikan jawaban dari Kirana, Reihan pun memegangi tangan kiri Kirana lagi, namun Kirana tak
kunjung menjawab pertanyaan Reihan, Kirana terdiam.
“Aku
memang buruk, an.., aku telah mencampakkanmu, maka aku menyebut diriku adalah
serpihan.” sambung Reihan lagi dan masih memegangi tangan kiri Kirana, berharap
Kirana mengatakan sesuatu.
“Maukah
kamu memungut serpihan ini, an...?” tanya Reihan memohon penuh harap. Kirana
masih terdiam. Kirana seperti
merasa habis manis sepah dibuang, dan dia tetap merasa bahwa dia
lah yang dipungut, bukan dia yang memungut.
“Kamuu..,
matre yaa..a…,
?” tanya
Kirana, polos, menduga sesuai dengan ucapan Reihan, tanpa berpikir lebih dalam
lagi.
“Iya, aku
matre, kamu juga kan,?” sambung Reihan dengan menyunggingkan senyum simpul.
Kirana mengernyit mendengar jawaban Reihan yang menanyakan pertanyaan yang
sama. Kirana hanya diam, tak menjawab pertanyaan Reihan. Lama, Reihan menunggu
jawaban Kirana. Namun, Kirana tetap membisu.
^^~~**~~^^
“Kau, tau
kenapa aku meneleponmu?” tanya Reihan, memulai percakapan setelah lama terdiam,
dan tak jua mendapatkan jawaban dari Kirana. “Kau, tau kenapa diriku
ini adalah serpihan?” tanya Reihan lagi, namun, Kirana masih terdiam, Reihan
pun tak memaksa Kirana untuk menjawabnya. “Kau, tau kenapa aku matre?” tanya Reihan yang ke tiga kalinya, Kirana pun
masih terdiam. “Kau, ta..” belum sempat Reihan melanjutkan kata-katanya, Kirana pun
angkat suara.
“Semua,
hanya kamu yang tau, kenapa.., mengapa..,” jawab Kirana singkat, membalas
dengan jawaban tak tuntas.
Dengan
senyum simpul, Reihan menjawab “Jawaban balas dendam ya?”
“Menurut
kamu, bagaimana?” jawab Kirana dengan nada mengiyakan.
“Lama
tidak berjumpa dan ngobrol serius, kamu banyak kemajuan, lebih pintar, hhehehe”
sambung Reihan, mengajak bercanda, melepaskan ketegangan yang daritadi menjadi background percakapan keduanya. Namun,
Kirana tak menganggap lucu, dan tak mau bercanda dalam situasi yang dianggapnya
serius. Kirana, hanya diam, tanpa senyum, tetap dengan aksi cemberut, kesal,
penuh kebimbangan.
“Ketika
aku memilih dia yang lebih awal hadir dalam hidupku dan lebih bisa memberikan semua yang ku mau dibandingkan dirimu,.. aku merasa itu
adalah pilihan yang tepat untuk memperoleh tujuan hidupku. Di saat aku
memilihnya, tujuan hidupku terasa ada dalam genggamanku, namun, hanya dalam
genggaman. Dalam genggaman yang bukan
berarti menguasai ataupun memiliki. Dalam genggaman yang bukan berarti suatu kebahagiaan....,” Reihan bercerita,
menumpahkan suara hatinya.
Reihan
terdiam sejenak, Kirana masih setia mendengarkan, namun tidak berkata sepatah
kata pun. Reihan pun melanjutkan kembali tumpahan uneg-unegnya, “Sesungguhnya,
aku memang tidak pernah memilikinya, karena dia mencintai orang lain, dia masih
saja berselingkuh dengan orang yang sama, dan itulah akhir dari kesabaranku.”
ucap Reihan menjelaskan sesuatu yang tertunda dari masa lalunya.
Reihan pun
melanjutkan ceritanya kembali, “Aku selalu dihantui rasa bersalah kepadamu,
untuk tujuan hidupku, aku mencampakkanmu, aku membiarkanmu menangis dan
bersedih. Untuk tujuan hidupku, aku melupakan tentang cinta yang sederhana,
tentang cinta tulus yang kau miliki yang kau
berikan untukku….” Kirana masih mendengarkan, dan tak
bereaksi namun tetap mencoba memahami cerita yang diutarakan Reihan.
Reihan pun
berhenti sejenak dan menghela nafas, lalu menyambung ceritanya kembali sambil
memegang erat tangan kiri Kirana. “Terakhir kita bertemu, kita tidak saling
menyakiti tapi memberi. Terakhir kita bertemu, adalah rangkaian kenangan yang
indah. Bukankah dulu tangan yang ku pegang ini besar, kaya’ tangan kuli
bangunan???” tanya Reihan tiba-tiba, menggoda Kirana yang tengah serius
mendengarkan cerita Reihan, namun dibuyarkan dengan bercandaan Reihan yang
garing. Kirana pun tersenyum, teringat kenangan lalu, ketika Reihan
mengolok-olok tangannya yang gede kaya’ gebhuk maling, maklum dulu Kirana kan gendhut :D.
Karena
Kirana masih tetap diam, Reihan melanjutkan ceritanya kembali, “An, kau tau,
Tuhan memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan sesuatu yang kita harapkan.”
lanjut Reihan kembali dengan terbata-bata. Kirana masih tetap diam, seolah
enggan berbicara apa pun. Reihan pun terdiam pula, dia merasa sudah menumpahkan
semua uneg-unegnya, dia tidak tau harus berkata apalagi kepada Kirana.
Saat itu,
angin sejuk menerpa wajah keduanya.
Dedaunan dan ranting pohon
menari-nari menyemarakkan keheningan yang tengah terjadi. Kirana menoleh ke arah
Reihan, Kirana menatap Reihan dalam-dalam, Kirana pun berkata, “Rei, kau tau
kenapa aku mau menjawab telepon mu?” tanya Kirana kepada Reihan.
“Kamu
masih menanyakannya, kan hanya
kamu yang tau jawabannya.” ucap Reihan, sambil menoleh ke arah Kirana yang berada di samping
kanannya.
“Kamu mau tau jawabannya, enggak??” tanya Kirana dengan senyum yang
mulai melebar.
“Mau nggak yaa?” jawab Reihan sedikit menggoda.
Kirana berucap dalam hati, “Rei, dari dulu aku sudah memaafkanmu, bahkan
ketika hati ini tengah sakit dan lara. Aku tak punya alasan untuk membencimu,
karena cinta yang ku miliki benar-benar putih seperti langit, jauh dari gelap
ataupun abu-abu.”
^^~~**~~^^
Catatan : Seseorang yang polos itu bukan bodoh tapi putih.