Jumat, 17 Oktober 2014

Cerpen : "Ketika Serpihan Terbuang"


Di kala sore, di suatu taman wisata daerah Kabupaten Semarang. Duduklah sepasang muda-mudi yang tengah bercakap akan kehidupan mereka. Itu adalah pertemuan pertama mereka dalam empat mata, setelah sekian lama tak berjumpa.
“Kau tau, kenapa aku mau menjawab teleponmu, rei?” tanya Kirana membuka percakapan. Reihan masih sibuk menikmati pemandangan di sekitar mereka, mereka berdua sedang duduk berdua di bawah pohon yang tinggi dan tidak terlalu besar, keduanya duduk bersebelahan dan sedang menatap arah yang sama.
“Karena kamu mau menjawabnya, kan, ??” jawab Reihan sekenanya.
“Iya, tapi kenapa aku mau menjawabnya? Alasannya, kamu tau gak, rei?” sambung Kirana lagi yang tak puas dengan jawaban yang diberikan Reihan.
“Yaaa, kalau itu, kamu yang tau,” sambung Reihan lagi, sedikit melirik ke arah Kirana.
“Huuhh, males ngomong sama orang yang gak asik!!” jawab Kirana sambil mengenduskan hidungnya.
Reihan hanya menoleh dan melihat Kirana yang terlihat kesal kepadanya, keduanya pun terdiam. Lama keduanya terdiam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kirana sedang memandangi pemandangan persawahan di depannya, sedangkan Reihan memandangi langit yang cerah, biru tanpa awan. Kirana yang tidak nyaman dengan kebisuan pun, membuka percakapan lagi.
“Rei, bolehkah aku bertanya? dan maukah kamu menjawabnya?” tanya Kirana kemudian sambil menoleh dan melihat reaksi Reihan.
“Ya, tanyakanlah.” jawab Reihan singkat diiringi anggukan santai.
“Hmmm... tapi jawabnya harus jujur lho ya?” sambung Kirana dengan sedikit memelas, mengharapkan kepastian mendapat jawaban jujur dari Reihan. Reihan hanya mengangguk saja, tanpa kata-kata, tanda mengiyakan.
Sedikit ragu-ragu mengutarakan pertanyaannya, Kirana pun bertanya sambil menundukkan kepalanya. “Rei, apa dulu kamu mencintaiku?” tanya Kirana dengan sedikit malu dan tidak berani menatap ke arah Reihan. Reihan diam sejenak mendengar pertanyaan yang diajukan Kirana, dia sedikit berpikir tentang jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kirana.
“Menurutmu, bagaimana? An..?” jawab Reihan, balik bertanya.
“Aku yang tanya duluan, rei!??” sambung Kirana sedikit membentak karena kesal dengan Reihan yang daritadi selalu tidak menanggapi serius pertanyaan yang diajukannya. Reihan pun menjawab, “Kamu ingin jawaban jujur..??” kemudian Reihan terdiam sejenak. “..tapi akan sedikit menyakitimu,....” sambung Reihan lagi, sambil menoleh ke arah Kirana.
“Kamu memang sudah menyakitiku, rei!” sambung Kirana sedikit trenyuh teringat kenangan masa lalu mereka.
“Aku tau,... ” sambung Reihan, dia tak melanjutkan kata-katanya, dia langsung menarik tangan kiri Kirana dan dipeganginya dengan erat.
“Maafkan aku, an...” ucap Reihan lirih, Kirana kaget Reihan memegang tangan kirinya dengan erat, walau begitu ia tetap membiarkan Reihan memegang tangannya, entah mengapa Kirana pun merasa tenang, nyaman, bersama Reihan.
“An, pernahkah kamu berpikir bahwa kemewahan itu penting,?” tanya Reihan sambil melepaskan tangan Kirana. Kirana termangu dengan pertanyaan Reihan.
“Penting dong, manusiawi ajalah, rei,..” jawab Kirana yang agak bimbang dengan jawaban yang diutarakannya.
“Oh yaa,? Dulu.. ketika memilih untuk melepasmu, aku berpikir bahwa kemewahan itu penting.” sambung Reihan dengan suara pelan.
“Sekarang, kamu memilih untuk memungutku kembali, apa kamu sekarang berpikir sebaliknya?” tanya Kirana, tak mengerti maksud Reihan, dan mencoba mencari tau ketidak-mengertiannya.
“Bukan aku yang memungutmu, tapi kamu yang memungutku.” tampik Reihan. “Aku kini hanya serpihan-serpihan yang sedang kamu pungut dan kamu bangun kembali dengan kekuatanmu.” sambung Reihan lagi.
“Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, rei, ??” tanya Kirana, masih bingung mengartikan untaian kata yang diucapkan Reihan. “Dulu, aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintainya, karena dia hadir lebih awal dibandingkan kamu dan dia pun selalu bisa memberikan apa yang aku pinta, dibanding kamu…” jawab Reihan, membuka semua yang menyelimuti pikirannya. Kirana terdiam dengan jawaban yang diucapkan Reihan.
“Tapi, itu dulu, an..,” sambung Reihan lagi, namun Kirana masih terdiam. “Kenapa kamu diam, an? apa kamu berpikir buruk tentangku?” sambung Reihan lagi, dengan mengiba, menantikan jawaban dari Kirana, Reihan pun memegangi tangan kiri Kirana lagi, namun Kirana tak kunjung menjawab pertanyaan Reihan, Kirana terdiam.
“Aku memang buruk, an.., aku telah mencampakkanmu, maka aku menyebut diriku adalah serpihan.” sambung Reihan lagi dan masih memegangi tangan kiri Kirana, berharap Kirana mengatakan sesuatu.
“Maukah kamu memungut serpihan ini, an...?” tanya Reihan memohon penuh harap. Kirana masih terdiam. Kirana seperti merasa habis manis sepah dibuang, dan dia tetap merasa bahwa dia lah yang dipungut, bukan dia yang memungut.
“Kamuu.., matre yaa..a…, ?” tanya Kirana, polos, menduga sesuai dengan ucapan Reihan, tanpa berpikir lebih dalam lagi.
“Iya, aku matre, kamu juga kan,?” sambung Reihan dengan menyunggingkan senyum simpul. Kirana mengernyit mendengar jawaban Reihan yang menanyakan pertanyaan yang sama. Kirana hanya diam, tak menjawab pertanyaan Reihan. Lama, Reihan menunggu jawaban Kirana. Namun, Kirana tetap membisu.
^^~~**~~^^
“Kau, tau kenapa aku meneleponmu?” tanya Reihan, memulai percakapan setelah lama terdiam, dan tak jua mendapatkan jawaban dari Kirana. “Kau, tau kenapa diriku ini adalah serpihan?” tanya Reihan lagi, namun, Kirana masih terdiam, Reihan pun tak memaksa Kirana untuk menjawabnya. “Kau, tau kenapa aku matre?” tanya Reihan yang ke tiga kalinya, Kirana pun masih terdiam. “Kau, ta..” belum sempat Reihan melanjutkan kata-katanya, Kirana pun angkat suara.
“Semua, hanya kamu yang tau, kenapa.., mengapa..,” jawab Kirana singkat, membalas dengan jawaban tak tuntas.
Dengan senyum simpul, Reihan menjawab “Jawaban balas dendam ya?”
“Menurut kamu, bagaimana?” jawab Kirana dengan nada mengiyakan.
“Lama tidak berjumpa dan ngobrol serius, kamu banyak kemajuan, lebih pintar, hhehehe” sambung Reihan, mengajak bercanda, melepaskan ketegangan yang daritadi menjadi background percakapan keduanya. Namun, Kirana tak menganggap lucu, dan tak mau bercanda dalam situasi yang dianggapnya serius. Kirana, hanya diam, tanpa senyum, tetap dengan aksi cemberut, kesal, penuh kebimbangan.
“Ketika aku memilih dia yang lebih awal hadir dalam hidupku dan lebih bisa memberikan semua yang ku mau dibandingkan dirimu,.. aku merasa itu adalah pilihan yang tepat untuk memperoleh tujuan hidupku. Di saat aku memilihnya, tujuan hidupku terasa ada dalam genggamanku, namun, hanya dalam genggaman. Dalam genggaman yang bukan berarti menguasai ataupun memiliki. Dalam genggaman yang bukan berarti suatu kebahagiaan....,” Reihan bercerita, menumpahkan suara hatinya.
Reihan terdiam sejenak, Kirana masih setia mendengarkan, namun tidak berkata sepatah kata pun. Reihan pun melanjutkan kembali tumpahan uneg-unegnya, “Sesungguhnya, aku memang tidak pernah memilikinya, karena dia mencintai orang lain, dia masih saja berselingkuh dengan orang yang sama, dan itulah akhir dari kesabaranku.” ucap Reihan menjelaskan sesuatu yang tertunda dari masa lalunya.
Reihan pun melanjutkan ceritanya kembali, “Aku selalu dihantui rasa bersalah kepadamu, untuk tujuan hidupku, aku mencampakkanmu, aku membiarkanmu menangis dan bersedih. Untuk tujuan hidupku, aku melupakan tentang cinta yang sederhana, tentang cinta tulus yang kau miliki yang kau berikan untukku….” Kirana masih mendengarkan, dan tak bereaksi namun tetap mencoba memahami cerita yang diutarakan Reihan.
Reihan pun berhenti sejenak dan menghela nafas, lalu menyambung ceritanya kembali sambil memegang erat tangan kiri Kirana. “Terakhir kita bertemu, kita tidak saling menyakiti tapi memberi. Terakhir kita bertemu, adalah rangkaian kenangan yang indah. Bukankah dulu tangan yang ku pegang ini besar, kaya’ tangan kuli bangunan???” tanya Reihan tiba-tiba, menggoda Kirana yang tengah serius mendengarkan cerita Reihan, namun dibuyarkan dengan bercandaan Reihan yang garing. Kirana pun tersenyum, teringat kenangan lalu, ketika Reihan mengolok-olok tangannya yang gede kaya’ gebhuk maling, maklum dulu Kirana kan gendhut :D.
Karena Kirana masih tetap diam, Reihan melanjutkan ceritanya kembali, “An, kau tau, Tuhan memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan sesuatu yang kita harapkan.” lanjut Reihan kembali dengan terbata-bata. Kirana masih tetap diam, seolah enggan berbicara apa pun. Reihan pun terdiam pula, dia merasa sudah menumpahkan semua uneg-unegnya, dia tidak tau harus berkata apalagi kepada Kirana.
Saat itu, angin sejuk menerpa wajah keduanya. Dedaunan dan ranting pohon menari-nari menyemarakkan keheningan yang tengah terjadi. Kirana menoleh ke arah Reihan, Kirana menatap Reihan dalam-dalam, Kirana pun berkata, “Rei, kau tau kenapa aku mau menjawab telepon mu?” tanya Kirana kepada Reihan.
“Kamu masih menanyakannya, kan hanya kamu yang tau jawabannya. ucap Reihan, sambil menoleh ke arah Kirana yang berada di samping kanannya.
“Kamu mau tau jawabannya, enggak??” tanya Kirana dengan senyum yang mulai melebar.
“Mau nggak yaa?” jawab Reihan sedikit menggoda.
Kirana berucap dalam hati, “Rei, dari dulu aku sudah memaafkanmu, bahkan ketika hati ini tengah sakit dan lara. Aku tak punya alasan untuk membencimu, karena cinta yang ku miliki benar-benar putih seperti langit, jauh dari gelap ataupun abu-abu.”

^^~~**~~^^
Catatan : Seseorang yang polos itu bukan bodoh tapi putih.

Jumat, 10 Oktober 2014

Anekdot Tanda-tanda Pemalas


Oleh :
ü  Mulyanto
ü  Khabib L.A
ü  Ridho Kristianto
ü  Nur Muarifah
ü  Fifik Ayu M
ü  Wasi’aturrohmal Maula

Suatu ketika, ada seorang anak bernama Einstein. Dia banyak diledek, karena namanya seperti Albert Einstein. Ketika dia duduk diteras sekolah dia terlihat blonga-blongo, teman-temannya selalu berpikir bahwa dia tak sepintar Albert Einstein. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Karena bel sudah berbunyi semua siswa masuk ke kelas, dan sang guru pun sudah memasuki kelas tersebut, dengan menaruh buku dimeja, sang guru menyuruh para siswanya “anak-anak ayo keluarkan tugas yang kemarin diberikan. Sudah dikerjakan kan ?” . Para siswa menjawab dengan serentak “sudaahh !!!” sang guru berjalan mengelilingi siswanya sambil membuka-buka buku tugas mereka, “baiklah saya periksa ya ??” kata sang guru.
Murid-murid terdiam. Betapa terkejutnya guru tersebut ketika melihat pekerjaan semua murid yang mengumpulkan. Namun, hanya tugas Einsteinlah yang mendekati sempurna. Hingga pada akhirnya sang guru berkata “ Saya sangat kecewa dengan pekerjaan kalian!!! Harusnya kalian menjabarkan, kenapa rata-rata jawabnya hanya 1 kalimat ?? Semua murid terdiam tak menghiraukan pertanyaan dari sang guru, tiba-tiba sang guru menepuk pundak Einstein sambil berkata  “Einstein, selamat ! Hanya tugas kamu yang mendekati sempurna !”.
“Apa bu ?? Akuu ?? Oh serius bu ?? Terimakasih” kata Einstein yang tak percaya dengan pujian sang guru.
Lalu sang guru bertanya pada Einstein “Menurut kamu, bagaimana dengan teman-temanmu ini ??” ,dengan tegas Einstein menjawab “Saya rasa mereka terkena tanda-tanda pemalas bu” dengan mengerutkan keningnya sang guru berbalik tanya “Loh, kok bisa ??” Einsteinpun menjawab “Iyalah mempersingkat apa yang harus dikerjakan, acuh tak acuh, mementingkan kepentingan pribadi, dikelas suka bermain ponsel, yang pasti suka lirik-lirikan dengan lawan jenisnya bu” lalu bertanyalah sang guru “Loh ?? Jadi kalau saya sedang main ponsel untuk berkomunikasi dengan suami saya , dan kalau saya lirik-lirikkan dengan kamu , berarti saya seorang pemalas dong ??” dengan tegas Einstein menjawab “ya iya keleus, sudah jelas didepan pintu/mading, tertulis : “MATIKAN PONSEL SAAT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR” dan pepatah mengatakan “LIRIK-LIRIKAN DAPAT MENIMBULKAN FITNAHH !!”

“hahahahahahah betul keleuss” semua siswa serentak tertawa, sang guru hanya bengong dan bingung sendiri. Kemudian bel istirahatpun berbunyi, dan semua siswa beergegas keluar dari kelas, pelajaranpun selesai.

AMANAT : memang tak ada manusia yang sempurna, banyak yang menomor satukankepentingan pribadi daripada kepentingan bersama.

Rabu, 08 Oktober 2014

Anekdot Seleksi Karyawan



Oleh:

Anna Mahdiyatul C. H
Dani Falahuddin
Ida Fitriyati Ulya
Lia Nurul Maula Ulfa
Miftakhul Hasan K
Putri Fatkhatul F
 
        Anda sedang menseleksi calon karyawan baru?? Ada segudang pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengetahui cara berfikir dan wawasan mereka. Salah satu contoh pertanyaan yang dapat diajukan.  Untuk test bagi calon karyawan sebagai berikut. Seorang manager HRD sedang menyaring pelamar untuk satu lowongan dikantornya. Setelah membaca seluruh berkas lamaran yang masuk, dia menemukan 4 orang calon yang cocok. Dia memutuskan memanggil ke-4 orang itu dan menanyakan 1 pertanyaan saja.  Jawaban mereka akan menjadi penentu apakah akan diterima atau tidak. Harinya tiba dan ke-4 orang itu sudah duduk rapi di ruangan interview.
          Si Manager lalu mengajukan 1 pertanyaan :
          “Setahu Anda, apa yang bergerak paling cepat?”
          Kandidat 1 menjawab, “PIKIRAN”.
       Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan, tanpa ancang-ancang. Tiba-tiba saja dia sudah ada. Pikiran adalah yang bergerak paling cepat yang saya tahu”.
         “Jawaban yang sangat bagus”, sahut si Manager.
         “Kalau menurut Anda?”, tanyanya kekandidat II.
       “Hm….KEJAPAN MATA! Datangnya tidak bisa diperkirakan, dan tanpa kita sadari mata kita sudah berkejap. Kejapan mata adalah yang bergerak paling cepat kalau menurut saya”.
     ”Bagus sekali! Dan memang ada ungkapan ’sekejap mata’ untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi”.
        Si manager berpaling kekandidat III, yang kelihatan berpikir keras.
      “NYALA LAMPU adalah yang tercepat yang sayaketahui”, jawabnya, “Saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang di taman depan langsung saat itu juga menyala” Si manager terkesan dengan jawaban Kandidat III. “Memang sulit mengalahkan kecepatancahaya”, pujinya.
      Dilirik oleh sang manager, kandidat IV menjawab, “Sudah jelas bahwa yang paling cepat itu adalah DIARE”.
        “APAAA???!!!”,seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.
        “Oh saya bisa menjelaskannya”, kata si kandidat. “Dua hari lalu kan perut saya mendadak mules sekali.
      Cepat-cepat saya berlari ke toilet.Tapi sebelum saya sempat BERPIKIR, MENGEJAPKAN MATA atau MENYALAKAN LAMPU, saya sudah berak di celana.. $#%?”
        Tentu saja kandidat terakhir yang diterima….
        Haha :D