Oleh :
Akhsinat Toyyibah
Arina Muntafiah
Arwa Aini Tsania
Khoirul Ilmiyah
M. Makin Diyaul C
Risalatun Nisa
Suatu ketika ada seorang
anak yang melamun dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri di dalam hati (sebut saja
namanya Nina), dan ia berkata “Mengapa dia selalu nomor satu di depan guru, sedangkan aku tak pernah satu pun menjadi nomor satu kecuali jika aku membuat
kesalahan....? Dannnn, saat itu lah aku menjadi nomor satu!
“Teng-teng-teng”, bel
pun berbunyi mengejutkan Nina.
“E... copot, e... copot”
“Bel apa itu, tsan?” tanya Nina.
“Bel pulang...! Bel masuklah”.
jawab Tsania
“Emang sekarang jam berapa ?”
“Kamu itu ya, dari tadi nanya-nanya
mulu, apa kamu sudah pikun ea, sekarang itu jam 07.15 ”
“Oooo.. maaf-maaf aku tadi ngalamun, jadinya
lupa, hehehehe.”
“KBB deh ”
“Apaannnn tuh, KBB ?”
“KeBiasaan Buruk”
“Ohhhh kirain ?!!!!!!!!#$”
“APA !!! ”
“Nggak pa-pa hehehehe..”
“Ahh nggak usah dibahas, yukk kita masuk”.
“Yukkk,!”
Pada
jam pertama kelas X MIPA adalah pelajaran matematika dan ada PR.
“Anak-anak
sudah mengerjakan tugasnya yang Ibu beri kemarin??”, sang guru bertanya.
“Sudah buuuu.......”, murid menjawab.
“Bagus”, Bu guru menambah kalimatnya.
“Belum buuu...”, Nina menjawab.
“Lhoww kenapa kamu tidak mengerjakan
tugasnya???” Bu Guru bertanya.
“Saya kan jawabnya belum.. bukan tidak, kalau belum kan tandanya saya akan mengerjakan entah itu kapan saya akan
mengerjakannya.
“Ooo.. Iya-iya benar juga kata kamu, yaa
sudah sekarang tugasnya kerjakan dulu, Ibu beri waktu 5 menit”.
“Ya buuuu”,
Setelah
5 menit kemudian Sang Guru bartanya kepada Nina.
“Sudah selesai tugasnya,”
“Sudah buuuu, tapi masih ada yang kurang,”
“Gimana sich, masak belum selesai..” Dengan enteng nina menjawab.
“Gimana sich, masak belum selesai..” Dengan enteng nina menjawab.
“Itulahh buuu,
kekurangan saya, tugasnya masih ada yang kurang,”
“ Ooooooo,, itu yaa, kekurangan
kamu.., sekarang ini kelebihan saya,”
“Apa bu …………????????”
"Saya akan menghukum
kamu”
“Lhoh,, kok gitu bu,”
Dengan tegas Bu Guru menyeret Nina.“Sudah sekarang ikut Bu Guru, !” Sesampainya di kamar mandi, Bu Guru mengambilkan sikat.
“Inii!! (sambil memberikan sikat itu kepada Nina)
"Sekarang bersihkan toilet ini!!”
“Lhooooooooo,...”
Sebelum Nina menjawab, Bu Guru memotong kalimat Nina.
“Sudah, gak usah banyak alasan atau Ibu tambah lagi hukumannya?!”
“Jangan bu, saya mohon jangannn,”
Nina membersihkan toilet sambil
bernyanyi.
"Ibu tiri………….
Hanya
cinta……..
Kepada
ayah ku saja ………….huhuhu"
Didalam hati ia berkata, “Lho, kok aku nyayi itu, apa hubungannya dengan Bu Guru, sungguh bodohnya
aku”.
Tiba-tiba ada segerombol laki -laki yang datang ke toilet itu dan satu dari segerombol laki- laki itu mengejek Nina.
“Haii kamu, kenapa kok kamu harus bersihin toilet.. Hahahahahahahahahahahahahahahah bauuuu!!”
Di dalam hati
Nina berkata, (Ohh My Godd, Oh My Noow, Oh My Why, dia dia dia pangeran kodok ku)
“Biarin yang
penting happy”
“Masa
bersihin toilet kamu happy??? Orang aneh.........hahahahahahahahahahahaha”
Di dalam hati
Nina berkata, “Iyalahh, happy kan ada kamu” tapi Nina tak berani berkata apa-apa dan
segerombol lelaki itu berlalu meninggalkan Nina. (Ooo, iya sebut saja lelaki itu Kevin).
Setelah
membersihkan toilet, Nina kembali ke kelas dan yang berada di kelas bukan guru
MTK, tetapi guru Seni Budaya.
“Assalamualaikum... Bu, maaf saya terlambat,”
“Yaa, silahkan masuk,” dengan cuek guru itu menjawab.
“(Jawab salam aja belum... ngapain sewot)” batin Nina.
“Yaaa Bu, TERIMA KASIH”, Nina membalas dengan sewot juga.
“Hahahahah.. makan tu cuek,” kata Tsania
“Apa bisa cuek di makan ?????” tanya Nina
“Yaaa ngak bisa sihhh”
“Kalau cuek bisa
di makan akan aku muntahin ke dia ” (sambil menunjuk guru seni budaya )
“Husy jangan gitu nanti
kualat lho”
“Biarin!!!!!!!”
Berapa jam kemudian waktu pulang pun tiba.
“Teeeng-teeeng..” murid pun bergembira tapi, guru tidak merespon bunyi
bel tersebut malahan sang guru melanjutkan pelajaran.
“Anak-anak, apa arti
dari instrumen?” tanya sang Guru.
“Pulang bbuuuuuu,”
jawab murid
“Salah... kalian
tadi tidak memperhatikan yaa?”
“Pulangggg, buuu,”
“Ooooo, saya tau apa
yang kalian maksud,” hati murid-murid pun lega mendengarnya.
“Kalian minta ulangan,
ya?” tapi mendengar lanjutan kata itu murid-murid tak jadi gembira. Mereka hanya diam.
“OK, fiks, minggu depan kita ulangan, sekian
dari saya, apabila banyak kekurangan......”
“Banyak buuuu...” murid memotong kalimat guru
tetapi guru tetap cuek dan melanjutkan ucapannya.
“Saya minta maaf,,”
“Tidak kami maafkan buuu,,” :D
Dan sang guru pun tetap cuek.
“Wassalamualaikum, ...”
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar