Sabtu, 13 September 2014

Anekdot Pengamen Kecil

Oleh :
Anwar Muzaki
Heskia Anis Aprilia
Sri Hidayati
Liya Sofinati
Dewi Istirohmah 
Susiyanti

     Hari ini masih pagi, yang sewajarnya anak berumur 9 tahun bersiap-siap berangkat sekolah, namun ia malah sudah asyik  bernyanyi sambil memainkan gitar kesayangannya yang menjadi tumpuan hidupnya.                                                                                                              Dan dimulailah aksinya dari jalan ke jalan, dan di sebuah halte ada seorang pemuda, pengamen kecil mendekatinya “Permisi Pak, numpang ngamen, 
“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, 
dulu ditendang sekarang ku di sayang, 
dulu dulu dulu duluuuu..”  
      Berhenti lagu yang di nyanyikanya teringat sesuatu di benaknya dan pemuda itu pun menanggapinya ”dulu  ya dulu ini jaman sudah sekarang bukan jaman dulu” dengan nada sinis “tapi dahulu itu menunjukkan adanya jaman sekarang pak” tegas si anak , “dan sekarang kamu mau apa?”tanya sang pemuda dengan nada sinis lagi “sekarang aku mau uang pak, perutku sudah pusing mikir uang” pengamen kecil menjawab nya “mikir uang pake perut” pemuda yang sangat jengkel , “perutku lapar butuh makan kalo makan butuh uang ,butuh uang buat beli makanan paak” “ya udah ini uangnya capek aku ngomong sama karet ,jepreeet!!! memberi selembar uang, dan langsung menaiki bus warna putih “tungguuu kembaliannya pak.” “Sumbangin aja di sekolah muuu” jawab pemuda itu yang berteriak keras di pintu bus, “waduh kan aku gak punya sekolah” pikirnya setelah itu. 
         Siang itu ketika ia sedang asyik menghitung uang hasil banting tulang nya sejak pagi, ia bertemu dengan seorang guru yang sedang lewat dengan seragam dinas yang Nampak hebat dan membawa tas yang besar Nampak ia sedang menunggu angkot kota,  lalu guru itu bertanya”dapat uang banyak dari mana dek? “pengamen kecil itu pun menjawab”ngamen pak!”sambil menghitung uang. Pak guru bertanya lagi ”kenapa kamu tidak sekolah,malah ngamen?” pengamen kecil itu pun menjawab dengan nada biasa ”ndak punya uang pak” guru itu pun menjawab dengan senyum nya “low!,sekolahkan gratis!” pengamen kecil itu tertawa lalu berkata “sekolah emang gratis pak!,tapi buku nya ,buat makan sehari-hari aja mepet apa lagi buat beli seragam” mendengar jawaban pengamen kecil itu pak guru menjadi tertegun, dankembali bertanya”kalau bapak boleh tahu orang tua mu dimana?”. Pengamen kecil itu menjawadb dengan nada rendah”bapak ku sudah tiada kini tinggal ibu di rumah, tapi ibu sedang sakit katarak”pak guru kembali ter tegun menangapi jawaban pengamen kecil itu. Dan kembali bertanya”ibu mu tidak punya jamkesmas dek?”pengamen bertanya balik”jamkesmas itu apa pak?” pak guru menjawab dengan heran”kamu ngak tahu jamkesmas!”pengamen kecil itu menjawab dengan enteng nya” ya elah pak! Sekolah aja sampe kelas 3SD”, pak guru pun menerangkan nya”jamkesmas itu jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin”pengamen”oh!, yang itu pak, kalau itu punya,tapi percuma pak! Tetangga saya aja ke rumah sakit pake itu di tolak mentah-mentah oleh pihak rumah sakit padahal tetangga saya Cuma mau periksa penyakit demam apa lagi ibu saya tambah”pak guru tertegun kembali dan tak tahu mau menjawab apa lagi .
      Akhirnya pak guru memberi uang lima puluh ribu, mungkin uang yang di beri tidak begitu berharga bagi pak guru namun bagi pengamen kecil itu sudah lebih dari pada berharga”ini saya kasih uang mungkin tidak terlalu banyak tapi hanya ini yang bisa saya kasih” pengamen kecil itu lalu menerima nya dengan senyuman dan berkata “trimakasih banyak pak!”. Kemudian bapak itu pergi karna angkot yang di tunggu sudah datang. Ketika di dalam angkot pak guru itu bertanya di dalam hati”ini kah Indonesia?’’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar