Oleh :
Anwar Muzaki
Heskia Anis Aprilia
Sri Hidayati
Liya Sofinati
Dewi Istirohmah
Susiyanti
Hari ini masih pagi, yang sewajarnya
anak berumur 9 tahun bersiap-siap berangkat sekolah, namun ia malah sudah
asyik bernyanyi sambil memainkan gitar
kesayangannya yang menjadi tumpuan hidupnya. Dan
dimulailah aksinya dari jalan ke jalan, dan di sebuah halte ada seorang pemuda,
pengamen kecil mendekatinya “Permisi Pak, numpang ngamen,
“Aku yang dulu
bukanlah yang sekarang,
dulu ditendang sekarang ku di sayang,
dulu dulu dulu
duluuuu..”
Berhenti lagu yang di
nyanyikanya teringat sesuatu di benaknya dan pemuda itu pun menanggapinya
”dulu ya dulu ini jaman sudah sekarang
bukan jaman dulu” dengan nada sinis “tapi dahulu itu menunjukkan adanya jaman
sekarang pak” tegas si anak , “dan sekarang kamu mau apa?”tanya sang pemuda
dengan nada sinis lagi “sekarang aku mau uang pak, perutku sudah pusing mikir
uang” pengamen kecil menjawab nya “mikir uang pake perut” pemuda yang sangat
jengkel , “perutku lapar butuh makan kalo makan butuh uang ,butuh uang buat
beli makanan paak” “ya udah ini uangnya capek aku ngomong sama karet
,jepreeet!!! memberi selembar uang, dan langsung menaiki bus warna putih “tungguuu
kembaliannya pak.” “Sumbangin aja di sekolah muuu” jawab pemuda itu yang
berteriak keras di pintu bus, “waduh kan aku gak punya sekolah” pikirnya
setelah itu.
Siang itu ketika ia sedang asyik
menghitung uang hasil banting tulang nya sejak pagi, ia bertemu dengan seorang
guru yang sedang lewat dengan seragam dinas yang Nampak hebat dan membawa tas
yang besar Nampak ia sedang menunggu angkot kota, lalu guru itu bertanya”dapat uang banyak dari
mana dek? “pengamen kecil itu pun menjawab”ngamen pak!”sambil menghitung uang.
Pak guru bertanya lagi ”kenapa kamu tidak sekolah,malah ngamen?” pengamen kecil
itu pun menjawab dengan nada biasa ”ndak punya uang pak” guru itu pun menjawab
dengan senyum nya “low!,sekolahkan gratis!” pengamen kecil itu tertawa lalu
berkata “sekolah emang gratis pak!,tapi buku nya ,buat makan sehari-hari aja
mepet apa lagi buat beli seragam” mendengar jawaban pengamen kecil itu pak guru
menjadi tertegun, dankembali bertanya”kalau bapak boleh tahu orang tua mu
dimana?”. Pengamen kecil itu menjawadb dengan nada rendah”bapak ku sudah tiada
kini tinggal ibu di rumah, tapi ibu sedang sakit katarak”pak guru kembali ter
tegun menangapi jawaban pengamen kecil itu. Dan kembali bertanya”ibu mu tidak
punya jamkesmas dek?”pengamen bertanya balik”jamkesmas itu apa pak?” pak guru
menjawab dengan heran”kamu ngak tahu jamkesmas!”pengamen kecil itu menjawab
dengan enteng nya” ya elah pak! Sekolah aja sampe kelas 3SD”, pak guru pun
menerangkan nya”jamkesmas itu jaminan kesehatan bagi masyarakat
miskin”pengamen”oh!, yang itu pak, kalau itu punya,tapi percuma pak! Tetangga
saya aja ke rumah sakit pake itu di tolak mentah-mentah oleh pihak rumah sakit
padahal tetangga saya Cuma mau periksa penyakit demam apa lagi ibu saya
tambah”pak guru tertegun kembali dan tak tahu mau menjawab apa lagi .
Akhirnya pak guru memberi uang lima
puluh ribu, mungkin uang yang di beri tidak begitu berharga bagi pak guru namun
bagi pengamen kecil itu sudah lebih dari pada berharga”ini saya kasih uang mungkin
tidak terlalu banyak tapi hanya ini yang bisa saya kasih” pengamen kecil itu
lalu menerima nya dengan senyuman dan berkata “trimakasih banyak pak!”.
Kemudian bapak itu pergi karna angkot yang di tunggu sudah datang. Ketika di
dalam angkot pak guru itu bertanya di dalam hati”ini kah Indonesia?’’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar