Sabtu, 13 September 2014

Anekdot Pengertian Politik

Oleh :
Choirul Maksum
Erlina Yuliarti
Nazilatul Fadhilah
Siti Zannuba Asysyifa
Ustadhatul Umiroh

Suatu malam yang sunyi, di sebuah rumah yang penuh dengan tanda tanya, terjadilah percakapan antara seorang anak Sekolah Dasar yang bertanya kepada ayahnya apa itu politik.
            Sang anak bertanya, “Yah, politik itu apa sih?” sang ayah menjawab “Duh nak, pertanyaanmu terlalu berat untuk anak seusiamu.” Keingintahuan sang anak sangat besar, sehingga ia terus saja merengek kepada ayahnya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena sang ayah tak tega melihat anaknya, akhirnya sang ayah menjawab pertanyaan sang anak. “Oke, begini saja. Ayah akan coba jelaskan dengan bahasa yang mudah kamu mengerti. Sehingga membuatmu faham apa itu sejatinya makna politik.” Mendengar jawaban dari ayahnya, sang anak kegirangan. “Horeeeeeeeee!!!!!! Ayah emang ayah yang paling baik.” (lebay///???>,<) Sang Ayah pun mulai menjawab pertanyaan anaknya dengan menggunakan sebuah perumpamaan sederhana. “Kamu sudah siap nak? Pasang telingamu lebar-lebar ya?” gurau sang ayah. Dengan sangat bersemangat sang anak menjawab “OKE FIX” Dengan spontan sang ayah menanggapi kata-kata sang anak “OKE CLEAR” (Mereka berdua tertawa bersama-sama) “Baiklah. Kita mulai dari dasar-dasar politik. Ayah ibaratkan politik itu seperti keluarga kita. Ayah di sini sebagai kepala keluarga. Tugasnya mencari nafkah, dimisalkan ayah ini kapitalisme. Kalau Ibumu itu mengatur keuangan untuk keluarga kita, diibaratkan ibumu itu adalah pemerintah. Kapitalisme dan Pemerintah yaitu ayah dan ibumu tugasnya memenuhi kebutuhanmu sebagai anak, sehingga ayah ibaratkan kamu ini adalah rakyat. Nah, Bi Inem, pembantu kita, ayah ibaratkan sebagai buruh. Dan adikmu yang masih kecil itu ayah anggap sebagai masa depan. Kalau diibaratkan dengan keluarga kita, politik itu seperti itu. Sekarang coba kamu fikirkan sendiri. Coba kamu hubungkan dengan praktek kehidupan kita sehari-hari agar kamu bisa tahu dan mengerti dengan mudah apa itu politik.” Terang sang ayah. Dengan penuh keingintahuan sang anak dengan spontan menjawab “ siap yah! Laksanakan!!!” lalu sang anak masuk kamar dan mulai menghubungkan kata demi kata yang telah dijelaskan oleh sang ayah.
            Saat tengah malam tiba, sang anak mendengar adiknya menangis. Ia terbangun lalu pergi ke kamar adiknya. Ternyata adiknya mengompol. Sang anak kemudian pergi ke kamar orangtuanya, tetapi ia hanya melihat ibunya yang sedang tertidur nyenyak. Karena ia tak ingin mengganggu ibunya, lalu ia pergi ke kamar Bi Inem, pembantu di keluarganya. Sesampainya di depan kamar sang pembantu, ia mendapati bahwa kamar itu terkunci. Ia tak kehabisan akal begitu saja, sang anak pun mengintip melalui lubang kunci. Betapa kagetnya sang anak saat melihat ayahnya sedang tidur bersama pembantunya. Ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Karena tak tega melihat sang adik terus menangis, tanpa berfikir panjang sang anak mengganti popok adiknya meski dengan susah payah.
            Keesokan harinya, disaat keluarga itu berkumpul di ruang makan untuk sarapan, sang anak berkata kepada sang ayah “Yah, sekarang aku sudah faham apa itu politik.” Mendengar perkataan dari anaknya, sang ayah merasa sangat bangga terhadap anaknya dan berkata “anak pintar (sambil mengusap kepala sang anak ) akhirnya kamu tau juga apa itu politik, padahal ayah baru memberikan informasi sedikit. Sekarang, coba kamu jelaskan pengertian politik menurut pengertianmu.” Dengan suara yang mantap sang anak menjawab “Ketika kapitalisme menekan dan mengintimidasi buruh, pemerintah hanya tertidur lelap tak bisa berbuat apa-apa. Sementara rakyatpun hanya bisa menjadi penonton dan bingung memikirkan masa depan. Maaf yah, aku menjelaskannya menggunakan bahasa politik karena tak ingin membuat pemerintah kecewa akan adanya kapitalisme di rumah ini.”
            Betapa kagetnya sang ayah ketika mendengar jawaban dari sang anak. Akhirnya kapitalisme runtuh seketika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar