Oleh :
Choirul Maksum
Erlina Yuliarti
Nazilatul Fadhilah
Siti Zannuba Asysyifa
Ustadhatul Umiroh
Suatu
malam yang sunyi, di sebuah rumah yang penuh dengan tanda tanya, terjadilah
percakapan antara seorang anak Sekolah Dasar yang bertanya kepada ayahnya apa
itu politik.
Sang
anak bertanya, “Yah, politik itu apa sih?” sang ayah menjawab “Duh nak,
pertanyaanmu terlalu berat untuk anak seusiamu.” Keingintahuan sang anak sangat
besar, sehingga ia terus saja merengek kepada ayahnya untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Karena sang ayah tak tega melihat anaknya, akhirnya sang ayah
menjawab pertanyaan sang anak. “Oke, begini saja. Ayah akan coba jelaskan
dengan bahasa yang mudah kamu mengerti. Sehingga membuatmu faham apa itu
sejatinya makna politik.” Mendengar jawaban dari ayahnya, sang anak kegirangan.
“Horeeeeeeeee!!!!!! Ayah emang ayah yang paling baik.” (lebay///???>,<)
Sang Ayah pun mulai menjawab pertanyaan anaknya dengan menggunakan sebuah
perumpamaan sederhana. “Kamu sudah siap nak? Pasang telingamu lebar-lebar ya?”
gurau sang ayah. Dengan sangat bersemangat sang anak menjawab “OKE FIX” Dengan
spontan sang ayah menanggapi kata-kata sang anak “OKE CLEAR” (Mereka berdua
tertawa bersama-sama) “Baiklah. Kita mulai dari dasar-dasar politik. Ayah
ibaratkan politik itu seperti keluarga kita. Ayah di sini sebagai kepala
keluarga. Tugasnya mencari nafkah, dimisalkan ayah ini kapitalisme. Kalau
Ibumu itu mengatur keuangan untuk keluarga kita, diibaratkan ibumu itu adalah pemerintah.
Kapitalisme dan Pemerintah yaitu ayah dan ibumu tugasnya memenuhi
kebutuhanmu sebagai anak, sehingga ayah ibaratkan kamu ini adalah rakyat.
Nah, Bi Inem, pembantu kita, ayah ibaratkan sebagai buruh. Dan adikmu
yang masih kecil itu ayah anggap sebagai masa depan. Kalau diibaratkan
dengan keluarga kita, politik itu seperti itu. Sekarang coba kamu fikirkan
sendiri. Coba kamu hubungkan dengan praktek kehidupan kita sehari-hari agar
kamu bisa tahu dan mengerti dengan mudah apa itu politik.” Terang sang ayah.
Dengan penuh keingintahuan sang anak dengan spontan menjawab “ siap yah!
Laksanakan!!!” lalu sang anak masuk kamar dan mulai menghubungkan kata demi
kata yang telah dijelaskan oleh sang ayah.
Saat
tengah malam tiba, sang anak mendengar adiknya menangis. Ia terbangun lalu
pergi ke kamar adiknya. Ternyata adiknya mengompol. Sang anak kemudian pergi ke
kamar orangtuanya, tetapi ia hanya melihat ibunya yang sedang tertidur nyenyak.
Karena ia tak ingin mengganggu ibunya, lalu ia pergi ke kamar Bi Inem, pembantu
di keluarganya. Sesampainya di depan kamar sang pembantu, ia mendapati bahwa
kamar itu terkunci. Ia tak kehabisan akal begitu saja, sang anak pun mengintip
melalui lubang kunci. Betapa kagetnya sang anak saat melihat ayahnya sedang
tidur bersama pembantunya. Ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Karena
tak tega melihat sang adik terus menangis, tanpa berfikir panjang sang anak
mengganti popok adiknya meski dengan susah payah.
Keesokan
harinya, disaat keluarga itu berkumpul di ruang makan untuk sarapan, sang anak
berkata kepada sang ayah “Yah, sekarang aku sudah faham apa itu politik.”
Mendengar perkataan dari anaknya, sang ayah merasa sangat bangga terhadap anaknya
dan berkata “anak pintar (sambil mengusap kepala sang anak ) akhirnya kamu tau
juga apa itu politik, padahal ayah baru memberikan informasi sedikit. Sekarang,
coba kamu jelaskan pengertian politik menurut pengertianmu.” Dengan suara yang
mantap sang anak menjawab “Ketika kapitalisme menekan dan mengintimidasi buruh,
pemerintah hanya tertidur lelap tak bisa berbuat apa-apa. Sementara rakyatpun
hanya bisa menjadi penonton dan bingung memikirkan masa depan. Maaf yah, aku
menjelaskannya menggunakan bahasa politik karena tak ingin membuat pemerintah
kecewa akan adanya kapitalisme di rumah ini.”
Betapa
kagetnya sang ayah ketika mendengar jawaban dari sang anak. Akhirnya
kapitalisme runtuh seketika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar